SESAJEN PIDUDUK PADA RITUAL PERNIKAHAN ADAT DAYAK NGAJU PERSPEKTIF MAQASID SYARIAH DI DESA TUMBANG RUNEN
Noraya Safitri (2026) SESAJEN PIDUDUK PADA RITUAL PERNIKAHAN ADAT DAYAK NGAJU PERSPEKTIF MAQASID SYARIAH DI DESA TUMBANG RUNEN. Undergraduate thesis, Universitas Muhammadiyah Palangkaraya.
|
Text
22.41.025801-Pendahuluan.pdf Download (619kB) |
|
|
Text
22.41.025801-Karya-Full.pdf Restricted to campus network only Download (1MB) |
|
|
Text
22.41.025801-Formulir-Pernyataan.pdf Restricted to Terbatas untuk pengelola ETD Download (882kB) |
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih dipertahankannya tradisi pemberian piduduk kepada buaya dalam ritual pernikahan adat Dayak Ngaju di Desa Tumbang Runen, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Tradisi tersebut merupakan warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun dan memiliki makna simbolik bagi masyarakat. Namun demikian, praktik pemberian piduduk kepada buaya memunculkan berbagai pandangan apabila ditinjau dari perspektif hukum Islam sehingga perlu dikaji berdasarkan pendekatan maqāṣid al-syarī'ah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna tradisi pemberian piduduk kepada buaya dalam ritual pernikahan adat Dayak Ngaju serta menganalisis kedudukannya berdasarkan perspektif maqāṣid al-syarī'ah. Penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris (yuridis empiris) dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian berada di Desa Tumbang Runen, Kecamatan Kamipang, Kabupaten Katingan. Data primer diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap tokoh adat, tokoh masyarakat, serta masyarakat yang memahami tradisi piduduk. Data sekunder diperoleh melalui buku, jurnal ilmiah, dan literatur yang relevan. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Analisis penelitian menggunakan teori simbolisme kebudayaan Clifford Geertz, teori Living Law, konsep 'urf, dan perspektif maqāṣid al-syarī'ah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa piduduk merupakan seperangkat sesajen adat yang diberikan kepada buaya sebagai bagian dari rangkaian ritual pernikahan adat Dayak Ngaju. Bagi masyarakat, tradisi tersebut dimaknai sebagai simbol penghormatan terhadap adat, penghormatan kepada leluhur, pelestarian budaya, serta harapan akan keselamatan dan keharmonisan rumah tangga. Berdasarkan teori simbolisme kebudayaan, tradisi piduduk merupakan simbol budaya yang mencerminkan sistem makna masyarakat Dayak Ngaju. Dari perspektif Living Law, tradisi tersebut merupakan hukum adat yang masih hidup dan memperoleh legitimasi sosial. Berdasarkan konsep 'urf, penilaian terhadap tradisi piduduk bergantung pada tujuan dan keyakinan masyarakat yang melaksanakannya. Sementara itu, berdasarkan perspektif maqāṣid al-syarī'ah, tradisi tersebut mengandung nilai kemaslahatan pada aspek ḥifẓ al-nafs, ḥifẓ al-'aql, ḥifẓ al-nasl, dan ḥifẓ al-māl. Adapun pada aspek ḥifẓ al-dīn, pelaksanaan tradisi perlu disertai pemahaman akidah yang benar agar tidak bertentangan dengan prinsip tauhid. Dengan demikian, tradisi piduduk dapat dipahami sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan sepanjang pemaknaannya tetap selaras dengan tujuan syariat Islam.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Kata Kunci: | Simbolisme; Sesajen Buaya; Ritual Pra-Nikah; Dayak Ngaju; Maqasid Syariah. |
| Subjek: | A General Works > AC Collections. Series. Collected works |
| Program Studi: | Fakultas Hukum > Hukum Keluarga (S1) |
| Dosen Pembimbing 1: | Ariyadi |
| Dosen Pembimbing 2: | Sanawiah |
| Date Deposited: | 24 Jul 2026 02:46 |
| Last Modified: | 25 Aug 2026 11:47 |
| URI: | https://etd.umpr.ac.id/id/eprint/203 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
